Sejarah Kota Al Ula Di Arab Saudi

sejarah kota Al Ula di Arab SaudiSelama ini, Arab Saudi dikenal dengan kota-kota suci yang menjadi tujuan utama umat Muslim di seluruh dunia, baik untuk melaksanakan ibadah Haji maupun Umroh. Berikut ini akan di ulas sejarah kota Al Ula di Arab Saudi yang konon sebagai kota berhantu.

Akhir-akhir ini, minat masyarakat meningkat terhadap kota Al Ula di Arab Saudi. Kota ini telah dianggap sebagai tempat yang dihindari dan dianggap terkutuk oleh Nabi Muhammad dan penduduk Arab pada masa lalu.

Al Ula merupakan kota besar yang terletak 400 km di sebelah utara Madinah. Ini adalah salah satu kota bersejarah yang dimiliki oleh Arab Saudi dan telah menjadi tempat tinggal manusia selama ribuan tahun. Suku kuno Arab, Lihyan, pernah mendiami kota ini di bawah pemerintahan dinasti Nabatean.

Sejarah Kota Al Ula

Sebuah kelompok masyarakat Nabatean membangun Kota Al Ula, yang telah ditempati oleh manusia selama ribuan tahun. Terletak di jalur Dupa, yang menghubungkan jalur perdagangan Arab, Mesir, dan India, Al Ula diyakini dihuni oleh Kaum Tsamud dari Kerajaan Dedanite pada abad ke-7 hingga ke-6 SM. Mulai abad ke-5 hingga ke-2 SM, kota ini menjadi tempat tinggal bagi Kerajaan Lihyan yang dipimpin oleh Dinasti Nabatean secara turun-temurun.

Kaum Nabatean kemudian memilih Mada’in Saleh sebagai Ibukota baru, mengukir kawasan pegunungan berbatu sebagai tempat tinggal mereka. Kabarnya, di Mada’in Saleh terdapat 114 makam kaum Nabatean.

Baca juga : Bangsa Rum Dalam Islam Di Akhir Zaman

Al Ula tidak hanya dipenuhi oleh pemukiman manusia, tetapi juga kuburan yang dibuat dengan memahat batu. Daerah pemakaman ini sekarang dikenal dengan nama Madain Saleh dan berlokasi 22 kilometer dari pemukiman penduduk yang dahulu.

Di samping itu, kota ini juga dihuni oleh kaum Tsamud dan ‘Ad. Pada sekitar abad ke-13, Al Ula mengalami transformasi menjadi kota yang ramai, terutama karena wilayahnya menjadi jalur perdagangan rempah-rempah yang signifikan.

Al Ula dijuluki sebagai kota hantu karena saat ini tidak ada satu pun penduduk yang tinggal di sana. Bahkan, tidak ada pedagang atau turis yang ramai mendatangi daerah tersebut.

Tidak seperti Petra di Yordania, Al Ula memiliki situasi yang berbeda. Sebagian warga Saudi enggan mengunjungi kota ini karena mereka meyakini bahwa Al Ula telah dikutuk. Ini terjadi karena bangsa Nabath di kota tersebut menolak untuk memeluk Islam dan tetap setia pada dewa-dewa yang mereka sembah.

Kaum Tsamud telah lenyap dari permukaan bumi, namun Allah SWT membiarkan jejak-jejak peradaban mereka berupa kota kuno yang memiliki keunikan tersendiri.

Menurut catatan sejarah, kota Al Ula pada masa lalu menjadi Ibukota Lihyanites Kuno (Dedanites) dan termasuk salah satu lokasi yang dihindari oleh Nabi Muhammad. Sebuah riwayat bahkan mengisahkan bahwa selama hidupnya, Nabi selalu berusaha untuk melewati daerah tersebut dengan cepat, bahkan tidak memperhatikan sekelilingnya.

Malahan, warga Arab sendiri merujuk Al Ula sebagai tempat tinggal jin yang sebaiknya dihindari atau kota yang dianggap ‘berhantu’ karena suku Nabatea yang tidak meninggalkan keyakinan mereka.

Al Ula, yang telah ditetapkan sebagai situs warisan dunia UNESCO sejak tahun 2008, juga dikenal sebagai Madain Saleh atau Hegra, kota yang pernah dihuni oleh kaum Tsamud. Legenda menyebutkan bahwa kaum Tsamud bersikeras tidak taat kepada Allah SWT dan menolak mengikuti petunjuk Nabi Saleh yang diutus untuk mereka. Akibatnya, mereka dihukum dan mengalami kehancuran.

Arab Saudi Mengembangkan Kota Al Ula

Antara tahun 1901 dan 1908, Kesultanan Utsmaniyah mendirikan jalur kereta api Hijaz dengan tujuan menghubungkan Damaskus dan Madinah. Jalur kereta ini tidak hanya melewati Al Ula, tetapi juga memiliki stasiun utama di Mada’in Saleh. Saat ini, mayoritas penduduk Kota Al Ula bekerja sebagai petani kurma, jeruk, anggur, dan delima.

Menurut Reuters, keputusan pemerintah Arab Saudi untuk mengubah Al Ula menjadi tujuan wisata dianggap sangat tepat. Langkah ini diyakini dapat menarik perhatian wisatawan asing, khususnya mereka yang bukan beragama Islam, untuk mengunjungi dan mengeksplorasi sejarah serta situs pra-Islam di Al Ula. Selain itu, ini juga dapat menjadi sarana untuk memperkuat identitas nasional.

Sekarang, Al Ula telah resmi diubah menjadi kawasan industri pariwisata di Arab Saudi. Bahkan, Organisasi Pariwisata Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNWTO) mengakui Al Ula sebagai desa wisata terbaik di Tanah Gurun Pasir tersebut.

Berdasarkan laporan dari Arab News pada tanggal 30 Agustus 2023, Komisi Kerajaan untuk Al Ula (RCU) telah mengumumkan rencana pembangunan perkotaan di wilayah tengah dan selatan, sebagai bagian dari inisiatif mereka untuk menjadikan Arab Saudi sebagai tujuan wisata global.

RCU merujuk pada rencana induk terbaru yang disebut “Path to Prosperity,” yang diharapkan dapat mengubah wilayah Al Ula bagian selatan dan tengah menjadi sebuah komunitas perkotaan dengan meningkatkan “kualitas hidup.”

Pengembangan proyek Al Ula juga menjadi salah satu aspek krusial dalam pencapaian Visi Arab Saudi 2030, sejalan dengan langkah-langkah Kerajaan untuk mentransformasi sektor ekonomi.

Demkianlah sejarah kota Al Ula di Arab Saudi, semoga menambah wawasan dan ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Baca juga : 19 Tempat Bersejarah Di Madinah

Butuh Bantuan ?