Mengenal 10 Sahabat Nabi Muhammad SAW

Mengenal 10 Sahabat Nabi Muhammad SAWBanyak sahabat Nabi SAW dijamin masuk surga, antara lain Abu Bakar Ash Shiddiq sampai Abu Ubaidillah bin Jarrah. Mari kita mengenal 10 sahabat Nabi Muhammad SAW yang dijamin masuk surga.

Ajaran Islam berkembang pesat berkat upaya gigih Rasulullah SAW dan para sahabat yang berjuang keras dalam dakwah untuk menyebarkan ajaran Islam sesuai dengan perintah Allah SWT. Dalam menjalani misi dakwah, Rasulullah SAW bersama para Sahabatnya menghadapi ujian dan rintangan yang sangat berat. Bahkan, beberapa di antara mereka harus merelakan kehilangan keluarga, harta, dan bahkan gugur syahid demi mempertahankan agama Islam.

Sebagai ganjaran atas dedikasi mereka, para sahabat Rasulullah SAW akan mendapatkan tempat di surga di akhirat. Rasulullah SAW menjamin bahwa mereka akan bersama-sama memasuki surga.

10 Sahabat Nabi Muhammad SAW

  1. Abu Bakar As Shiddiq

Abu Bakar As-Shiddiq adalah sahabat pertama Rasulullah SAW, dan dia termasuk dalam kelompok pertama yang mempercayai Nabi Muhammad dan memeluk agama Islam. Setelah wafatnya Nabi, Abu Bakar juga menjadi orang pertama yang melanjutkan kepemimpinan Rasulullah SAW.

Ketika Nabi menyebarkan agama Islam di tanah Arab, Abu Bakar As-Shiddiq selalu mendampingi dan menjaga Nabi Muhammad SAW. Beliau juga merupakan salah satu sahabat yang menemani Nabi ketika melakukan hijrah dari Mekkah ke Madinah.

Walaupun sering kali dihadapi dengan ancaman pembunuhan, Abu Bakar tetap berani dan terus melanjutkan perjuangannya dalam membela Islam. Sifat-sifat yang dapat menjadi contoh dari pribadinya meliputi kelembutan, kesabaran, dan kejujuran yang selalu ditekankan. Karena sifat-sifat tersebut, gelar “As-Shiddiq” yang berarti “yang selalu berkata benar” sangat pantas disematkan padanya.

Berdasarkan catatan sejarah Islam, Abu Bakar adalah seorang individu yang terkenal sebagai seorang pedagang, hakim yang menduduki posisi penting dalam masanya, seorang cendekiawan, dan memiliki kemampuan untuk menafsirkan mimpi.

Nabi Muhammad sangat percaya kepada Abu Bakar. Pada akhir hayat Nabi, beliau menunjuk Abu Bakar sebagai imam shalat berjamaah, yang juga merupakan pertanda bahwa Abu Bakar akan menjadi khalifah pengganti Nabi bagi umat Muslim.

Baca juga : Kisah Abu Qilabah Sahabat Rasul

  1. Umar Bin Khattab

Salah satu dari 10 sahabat Nabi yang dijamin masuk surga adalah Umar bin Khattab, meskipun pada awal munculnya ajaran agama Islam di Mekkah, Umar pernah memiliki niat untuk membunuh Nabi Muhammad SAW.

Umar mendapat hidayah ketika ia mendengar saudarinya membaca ayat suci Alquran. Tanpa ragu, ia bertaubat dan memeluk agama Islam. Setelah itu, Umar menjadi salah satu khulafaur rasyidin yang paling berpengaruh dalam menyebarkan agama Islam.

Umar bin Khattab adalah sosok yang sangat berani, yang tidak ragu menggunakan pedangnya untuk berjihad demi membela agama Allah. Salah satu sifat terpuji yang bisa dicontoh dari dirinya adalah keberaniannya dalam mengidentifikasi kebenaran dan kesalahan serta bersuara untuk membedakannya.

Sifat tersebut memberikan kepada beliau gelar “Al-Faruq,” yang mengindikasikan perbedaan antara yang benar dan yang salah. Kepemimpinan Umar bin Khattab setelah wafatnya Abu Bakar sangat terkenal dan berperan penting dalam penyebaran Islam hingga mencakup sepertiga dari populasi dunia.

Dia dilahirkan dalam keluarga yang memiliki cukup kekayaan, tidak kaya namun juga tidak miskin. Umar adalah salah satu dari sedikit orang yang mampu membaca dan menulis pada masa itu.

Pada zaman jahiliyah sebelum ia memeluk Islam, Umar adalah sosok yang sangat dihormati. Kekuatannya bahkan memungkinkan dia meraih gelar juara dalam pertandingan gulat di Mekkah. Di masa itu, di Mekkah juga terdapat tradisi yang mewajibkan penguburan anak perempuan yang masih hidup.

Umar adalah salah satu individu yang tidak ragu-ragu untuk mengubur putrinya hidup-hidup, dan sangat menyesal atas tindakannya setelah memeluk agama Islam. Meskipun dulu dikenal sebagai peminum dan pemabuk, sejak berpindah ke agama Islam, dia sama sekali tidak pernah menyentuh alkohol.

  1. Utsman Bin Affan

Mengenal 10 Sahabat Nabi Muhammad SAW-Selain dua sahabat Nabi yakni Abu Bakar dan Umar, Utsman bin Affan juga merupakan bagian dari golongan assabiqunal awwalun, yaitu orang-orang pertama yang memeluk agama Islam. Utsman terkenal sebagai seorang saudagar kaya raya di kota Mekkah.

Walaupun memiliki kekayaan berlimpah, ia menunjukkan sifat-sifat yang patut dijadikan contoh, seperti kedermawanan, sopan santun, serta bicara dengan lemah lembut. Ia juga selalu menggunakan harta berkecukupannya untuk berbagi dengan memberikan sedekah, infaq, dan berzakat.

Utsman bin Affan terkenal sebagai pemimpin yang sangat peduli terhadap kebutuhan sosial. Salah satu contohnya adalah ketika beliau mendonasikan sebuah sumur agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat saat musim kemarau tiba.

Utsman Bin Affan kemudian menggantikan posisi Umar bin Khattab sebagai khalifah. Selama masa pemerintahannya, terjadi kemajuan signifikan dalam bidang infrastruktur dan perkembangan Islam. Salah satu pencapaiannya adalah pembangunan angkatan laut khusus untuk komunitas Islam pertama.

Wafatnya Utsman bin Affan merupakan peristiwa tragis dan mengharukan. Beliau meninggal dunia dalam kondisi dibunuh oleh para pemberontak ketika sedang membaca Alqur’an. Utsman bin Affan juga wafat secara syahid, dan hal ini telah diramalkan oleh Rasulullah jauh sebelum kejadian tersebut terjadi.

  1. Ali Bin Abi Thalib

Sahabat Nabi berikutnya adalah Ali bin Abi Thalib. Setelah istri Rasulullah SAW, Siti Khadijah, Ali bin Abi Thalib adalah orang kedua yang dengan segera mempercayai wahyu Allah SWT yang disampaikan melalui Nabi dan memeluk agama Islam.

Tidak mengherankan, Allah juga memberikan janji surga tanpa hisab kepada Ali bin Abi Thalib. Kesetiaan Ali terhadap agama Islam sudah tertanam sejak masa kecil, karena dia belajar langsung dari Nabi Muhammad SAW tentang agama Islam.

Sebagai seorang muslim yang berjuang di jalan Allah, Ali bin Abi Thalib selalu hadir dalam medan perang untuk mempertahankan keyakinan agamanya, yaitu Islam. Ali bin Abi Thalib bahkan pernah menjadi pengganti Rasulullah ketika kaum Quraisy mencoba menghadangnya.

Tiga hari berikutnya, Ali memutuskan untuk berangkat sendirian menuju Madinah menyusul Nabi yang telah berhijrah terlebih dahulu. Dia melakukan perjalanan pada malam yang gelap dan bersembunyi pada siang hari untuk menghindari serangan dari kaum Quraisy.

Ali bin Abi Thalib menggantikan Utsman bin Affan sebagai khalifah beberapa tahun setelah Utsman wafat. Selama masa kepemimpinannya, Ali menghadapi berbagai tantangan akibat pemberontakan yang merajalela. Ia menjadi khalifah terakhir yang dianggap sebagai salah satu dari Khulafaur Rasyidin.

  1. Thalhah Bin Ubaidillah

Sahabat Nabi dari suku Quraisy ini dianugerahi sejumlah julukan oleh Nabi Muhammad SAW. Salah satunya adalah julukan “Thalhah,” yang menggambarkan sifatnya yang baik hati, pemurah, dan dermawan. Saat terjadi Pertempuran Uhud, Thalhah dengan berani berdiri sebagai perisai untuk melindungi Rasulullah dari serangan kaum Quraisy. Pengorbanannya tersebut mengakibatkan Thalhah kehilangan jari-jarinya.

Thalhah juga wafat dalam keadaan syahid ketika terlibat dalam pertempuran Jamal. Bahkan, Nabi Muhammad SAW pernah menyatakan dalam hadis yang sahih bahwa jika seseorang ingin melihat seorang syahid di dunia ini, maka lihatlah kepada Thalhah Ubaidillah.

  1. Zubair Bin Awwam

Mengenal 10 Sahabat Nabi Muhammad SAW-Zubair bin Awwam memeluk Islam pada usia 15 tahun, saat masih belia. Beliau adalah saudara sepupu Nabi dan termasuk dalam kelompok orang pertama yang mengikuti agama Islam. Sepanjang hidupnya, Zubair tetap setia sebagai pengawal dan penolong Rasulullah.

Pada permulaan ketika dia memilih Islam sebagai agamanya, dia diuji ketika mengalami siksaan dari pamannya sendiri, yaitu Naufal bin Khuwailid. Akan tetapi, berkat keyakinan kuatnya, dia tidak ragu untuk memeluk Islam.

  1. Abdurrahman Bin Auf

Abdurrahman bin Auf, sahabat Nabi yang terkenal dengan sifat dermawannya, merupakan salah satu di antara pionir pertama yang mengikuti tauhid dan memeluk Islam. Ia juga dikenal sebagai seorang pengusaha yang tekun dalam berwakaf. Meskipun begitu, ia tak pernah ragu untuk turut serta dalam medan perang, bahkan dalam pertempuran Uhud, di mana ia mengalami 20 luka tusukan dan kehilangan giginya.

Beliau adalah salah satu dari mereka yang turut hijrah bersama Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah. Dengan keberaniannya, dia membawa segala harta yang dimilikinya. Namun, di tengah perjalanan, penguasa Mekkah, yaitu kaum Quraisy, merampas seluruh kekayaannya.

Abdurrahman bin Auf dan Utsman bin Affan bersaing dalam melakukan amal dan bersedekah. Abdurrahman bin Auf terkenal karena pernah menjual tanahnya seharga 40 ribu dinar dan mengalokasikan semua hasil penjualannya kepada fakir miskin. Bahkan, sebelum meninggal, Abdurrahman bin Auf juga menyumbangkan 400 dinar kepada para pahlawan yang selamat dari Pertempuran Badar.

  1. Sa’ad Bin Abi Waqqash

Sa’ad bin Waqqash, yang juga dikenal sebagai Sa’ad bin Malik Az-Zuhri, adalah paman Nabi Muhammad SAW dari pihak ibu. Sa’ad lahir dalam keluarga yang kaya dan terhormat. Ia memiliki sifat serius dan kecerdasan yang luar biasa.

Abu Bakar, seorang sahabat Nabi, mengajak Sa’ad untuk bertemu dengan Nabi Muhammad SAW. Setelah mendengar penjelasan Rasulullah SAW tentang Islam, Sa’ad sangat tergerak dan sepakat untuk memeluk agama Allah SWT.

Dalam setiap pertempuran, kehadiran Sa’ad bin Waqqash di tengah-tengah tentara Muslim membawa ketenangan. Keahliannya dalam mengatasi musuh, kesetiaannya kepada Allah SWT, dan perhatiannya menjadikan pasukan Muslim merasa lebih aman.

Sa’ad dikenal karena keberaniannya dalam berperang dan terus diandalkan oleh para khalifah setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Dia tutup usia pada usia 80 tahun dan merupakan salah satu sahabat terakhir yang meninggal.

  1. Sa’id Bin Zaid

Bersama istrinya, Fathimah binti Khatab, yang merupakan adik dari Umar bin Khatab, Sa’id bin Zaid memeluk agama Islam dan tetap setia dalam membela agamanya sepanjang hidupnya. Sa’id selalu mengikuti Rasulullah SAW ke medan perang, kecuali dalam perang Badar.

Pada awal perjalanan keimanan Sa’id kepada Allah SWT, ia mengalami banyak tekanan dan perlakuan kasar dari anggota masyarakatnya, termasuk Umar bin Khatab, yang saat itu belum menganut agama Islam. Umar bahkan pernah melakukan kekerasan fisik terhadap Sa’id bin Zaid, yang menyebabkan darah segar mengalir di wajahnya.

Namun, Sa’id bin Zaid tetap tabah menghadapi ujian tersebut, dan kenyataannya, inilah yang membuat Umar begitu terharu dan akhirnya memutuskan untuk memeluk Islam. Selain ketabahan, Sa’id juga dikenal karena kegigihan dan keberaniannya di medan perang.

Dia bahkan ikut menaklukan wilayah Syam, yang sekarang dikenal sebagai Suriah dan daerah sekitarnya. Wafatnya terjadi setelah para sahabat Nabi yang lainnya telah meninggal terlebih dahulu, dan dia meratapi kepergian mereka yang telah pergi sebelumnya di dunia.

  1. Abu Ubaidah Bin Jarrah

Abu Ubaidah bin Jarrah memeluk Islam melalui perantaraan Abu Bakar As-Shiddiq di awal periode keislaman, sebelum Nabi Muhammad SAW memulai pengajaran di Darul Arqam. Beliau adalah salah satu sahabat yang sangat aktif berpartisipasi dalam medan perang bersama Nabi Muhammad SAW.

Dalam Pertempuran Badar, dicatat bahwa Abu Ubaidah membunuh ayahnya sendiri, yang merupakan seorang kafir yang sangat menentang Islam. Dalam sejarah lain, disebutkan bahwa saat Pertempuran Uhud, Abu Ubaidah melindungi Rasulullah dari serangan musuh, dan ia kehilangan dua giginya dalam peristiwa tersebut.

Walaupun banyak tantangan berat terjadi selama perang, Abu Ubaidah tetap teguh dalam tekadnya untuk terus berjuang di jalan Allah SWT. Bahkan di bawah kepemimpinan Khalifah Abu Bakar, Abu Ubaidah dipilih sebagai panglima perang yang memimpin pasukan melawan Kekaisaran Romawi.

Kini kita telah mengenal 10 sahabat Nabi Muhammad SAW yang dijamin masuk surga, semoga kita dapat memetik pelajaran dari kisah tersebut di atas.

Baca juga : Kisah Abu Lahab Paman Rasulullah SAW

Kisah Ali Bin Abi Thalib Sebagai Khalifah

kisah Ali Bin Abi Thalib sebagai khalifahSalah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yakni Ali bin Abi Thalib menjadi khulafaur rasyidin terakhir atau pemimpin Islam setelah Rasulullah wafat. Ali adalah khalifah yang keempat. Berikut ini kisah Ali Bin Abi Thalib sebagai khalifah yang terakhir.

Ali bin Abi Thalib merupakan sepupu Rasulullah SAW. Ayahnya bernama Abu Thalib, yang tidak lain adalah paman Nabi Muhammad SAW. Ali yang memiliki nama asli Haydar ini dilahirkan di Makkah pada tanggal 13 Rajab, sepuluh tahun sebelum Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi rasul.

Sejak Ali dilahirkan, ia dibesarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Ali telah menjadi sumber kebahagiaan bagi Muhammad yang saat itu belum memiliki anak laki-laki. Nama Ali juga diberikan oleh Nabi Muhammad SAW.

Ketika Nabi diangkat menjadi Rasul dan memulai berdakwah, Ali adalah salah satu dari yang pertama yang mempercayainya. Ali termasuk dalam golongan assabiqunal awwalun, yaitu orang-orang yang pertama masuk Islam. Dia memeluk Islam ketika masih remaja.

Ali bin Abi Thalib dikenal sebagai pribadi yang sangat sopan dan cerdas. Rasulullah bahkan memberikan julukan kepadanya sebagai pintu gerbang pengetahuan Islam. Ali kemudian menikahi Fatimah Az-Zahra, putri bungsu Nabi Muhammad SAW, yang berasal dari Khadijah.

Ali terlibat dalam sejumlah peperangan bersama Rasulullah, namun perang Tabuk menjadi pengecualian. Pada peristiwa tersebut, Ali diberikan tugas krusial oleh Rasulullah untuk menjaga kota Madinah. Ali juga mampu membuka Benteng Khaibar saat perang Khaibar, sementara pada saat itu tidak ada satu pun orang yang dapat membukanya.

Baca juga : 12 Keutamaan Sabar Dalam Islam

Setelah wafatnya Rasulullah SAW, Ali bin Abi Thalib menjadi penerus kepemimpinan Islam sebagai khalifah yang keempat dan terakhir dari khulafaur rasyidin. Dia melanjutkan kepemimpinan setelah Abu Bakar ash-Shidiq, Umar bin Khattab, dan Usman bin Affan.

Sebagai salah satu dari khulafaur rasyidin, Ali memiliki kewajiban untuk memimpin Islam. Selama masa pemerintahannya, dia harus melaksanakan tugas memperluas penyebaran agama Islam dan juga berupaya meningkatkan kesejahteraan umatnya.

Pemerintahan Ali dianggap sebagai masa yang paling sulit dalam sejarah Islam karena menyaksikan konflik saudara antara umat Muslim setelah terjadinya tragedi pembunuhan Khalifah ketiga, Utsman bin Affan.

Setelah Sayyidina Utsman bin Affan gugur, kekacauan melanda kota Madinah. Ini disebabkan oleh kekosongan kepemimpinan setelah wafatnya Sayyidina Utsman, yang belum digantikan oleh siapapun. Kekosongan ini semakin memperparah keadaan di Madinah, sedangkan negara dan masyarakat membutuhkan seorang pemimpin yang dapat menghidupkan kembali umat Islam setelah masa kemerosotan dan kekacauan yang telah terjadi.

Masyarakat Madinah memerlukan pemimpin yang tidak hanya memiliki kekuatan, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mengayomi mereka, mengatasi krisis, dan memperbaiki kerusakan yang tengah melanda masyarakat saat itu.

Kaum Muslimin memilih untuk mengarahkan harapannya kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib, karena hanya dia yang dianggap mampu menyelamatkan umat Islam. Setelah kekacauan yang terjadi, tak ada satu pun yang berani mencalonkan diri sebagai pengganti Khalifah Utsman bin Affan. Sosok pemimpin yang diidamkan oleh masyarakat pada saat itu adalah sosok seperti Sayyidina Ali bin Abi Thalib.

Ali bin Abi Thalib adalah seorang yang mempunyai banyak kelebihan. Dia mahir dalam seni pedang dan pena, dan memiliki kecerdasan dalam mengatasi berbagai masalah keagamaan. Kata-katanya dihormati oleh para sahabatnya.

Ali bin Abi Thalib juga terkenal sebagai sosok yang sederhana dan rendah hati. Baik sebelum beliau diangkat sebagai khalifah maupun setelahnya, beliau tidak menunjukkan perbedaan dalam gaya hidupnya di dalam keluarganya. Kesederhanaan ini juga diwariskan kepada anak-anaknya.

Sejatinya, Sayyidina Ali bin Abi Thalib tidak memiliki ambisi untuk menjadi khalifah. Malahan, Ali menolak usulan dari sahabat-sahabat yang berkeinginan menjadikannya khalifah. Ali meyakini bahwa posisi khalifah adalah sesuatu yang sangat berarti, yang memerlukan kesepakatan dan dukungan penuh dari para sahabat yang sebelumnya telah berjuang bersama Nabi Muhammad SAW.

Sesudah Ali bin Abi Thalib menjadi pemimpin yang sah, ia harus mengemban tanggung jawab yang semakin berat. Ali harus memimpin dengan baik dan menghadapi berbagai tantangan yang muncul. Seperti yang kita tahu, Ali bin Abi Thalib diangkat menjadi khalifah dalam situasi yang penuh dengan kekacauan dan konflik. Bahkan, putranya pun mengkritiknya karena bersedia menerima jabatan tersebut. Namun, Ali tidak pernah menarik diri atau menyerah begitu saja karena ia merasa memiliki panggilan dalam hatinya untuk terus memperjuangkan Islam.

Sistem kepemimpinan yang diterapkan oleh Khalifah Ali bin Abi Thalib berbeda dengan pendekatan yang digunakan oleh Khalifah Utsman bin Affan. Khalifah Ali bin Abi Thalib cenderung mengadopsi suatu sistem yang lebih serupa dengan gaya kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab, yang ditandai oleh ketegasan, disiplin, dan keberanian dalam menjalankan kebijakan ekonomi seperti pengumpulan zakat dan berbagai jenis pajak.

Di sisi lain, Khalifah Utsman bin Affan menerapkan pendekatan yang lebih lunak dalam mengelola kebijakan ekonomi, sehingga menyebabkan banyak kelompok yang merasa kurang puas dengan pemerintahan Ali bin Abi Thalib karena dianggap mengancam kesejahteraan dan kepuasan hidup mereka.

Pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib, seringkali terjadi pemberontakan dan stabilitas sangat kurang. Ali mengambil tindakan untuk mengganti gubernur-gubernur yang telah ditunjuk pada masa kepemimpinan Utsman bin Affan, menganggap bahwa pemberontakan disebabkan oleh kecerobohan mereka. Selanjutnya, Ali mengambil langkah untuk mengambil kembali tanah yang sebelumnya telah diberikan oleh Utsman kepada masyarakat, mengarahkan pendapatan dari tanah tersebut ke kas negara, dan kembali menerapkan sistem distribusi pajak tahunan, mirip dengan kebijakan yang diterapkan pada masa pemerintahan khalifah Umar bin Khattab.

Dampak dari kebijakan-kebijakan tersebut menyebabkan pemerintahan mengalami gejolak dalam bentuk pemberontakan-pemberontakan. Salah satu insiden pemberontakan yang tercatat pada masa kepemimpinan Ali bin Abi Thalib adalah Perang Jamal. Pemberontakan ini muncul akibat ketidakpuasan beberapa sahabat terhadap Ali, yang menghambat penyelidikan atas pembunuhan Utsman bin Affan.

Selain itu, Perang Siffin juga meletus pada tahun 37 H (656 M), melibatkan Ali bin Abi Thalib dan gubernur Syiria, Mu’awiyah bin Abu Sufyan. Konflik ini bermula dari dorongan Mu’awiyah untuk membalas kematian Khalifah Utsman bin Affan.

Walaupun terdapat banyak pemberontakan selama pemerintahan Ali bin Abi Thalib, namun dia juga berhasil mencapai beberapa prestasi dalam upayanya untuk memajukan perkembangan Islam. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Perkembangan dalam bidang pemerintahan melibatkan tindakan Ali bin Abi Thalib yang menggantikan gubernur yang telah ditunjuk selama masa kepemimpinan Utsman bin Affan, serta mengambil kembali tanah milik negara yang sebelumnya telah diberikan kepada masyarakat.
  • Dalam ranah politik dan militer, Ali bin Abi Thalib berhasil merancang struktur polisi dan menetapkan peran-peran mereka, yang menghasilkan perluasan wilayah kekuasaan Islam oleh umat Islam.
  • Pada masa pemerintahan Khalifah Ali, terjadi kemajuan dalam bidang ilmu bahasa, termasuk pengembangan seni kaligrafi serta kelanjutan teknik penulisan al-Qur’an yang telah dimulai pada masa kepemimpinan Utsman bin Affan.
  • Kemajuan dalam sektor pembangunan, menjadi salah satu prestasi Khalifah Ali bin Abi Thalib dalam konteks pengaturan perkotaan. Kota Kufah di Irak menjadi bukti nyata keberhasilan Ali dalam memperbaiki tatanan perkotaan.
  • Dalam ranah ekonomi, Ali hanya meneruskan beberapa kebijakan yang sebelumnya diterapkan oleh Umar, termasuk pengelolaan tanah yang diambil dari Bani Umayyah dan warga lainnya untuk meningkatkan penerimaan negara, sambil merawat dan mempertahankan Baitul Mal.
  • Dalam perkembangan pendidikan, Ali mendirikan beberapa madrasah untuk menyediakan pembelajaran dan mempromosikan hukum Islam.

Masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib berakhir ketika beliau meninggal pada tanggal 20 Ramadhan tahun 40 H atau tanggal 24 Januari 661 Masehi. Pada saat itu, usianya adalah 63 tahun, dan beliau gugur sebagai syahid setelah memimpin selama hampir 6 tahun. Demikian kisah Ali Bin Abi Thalib sebagai khalifah yang terakhir dalam meneruskan dakwah Nabi Muhammad SAW.

Baca juga : Kisah Nabi Dzulkifli AS Singkat

Kisah Utsman Bin Affan Singkat

Kisah Utsman Bin Affan SingkatSalah satu dari beberapa sahabat Nabi yang kita kenal, yang pernah menggantikan kepemimpinan setelah wafatnya Nabi, adalah Utsman Bin Affan. Ia menjadi khalifah ketiga setelah Abu Bakar dan Umar Bin Khattab, dan melanjutkan tradisi kepemimpinan yang adil dan sejahtera. Berikut ini kisah Utsman Bin Affan singkat.

Utsman bin Affan merupakan Khalifah yang ke-3, yang memerintah dari tahun 644 Masehi hingga 656 Masehi. Ia juga merupakan salah satu dari Khulafaur Rasyidin yang paling lama berkuasa dan juga sebagai sahabat dari Rasulullah SAW. Pernikahannya yang berturut-turut dengan kedua putri Nabi Muhammad, Khadijah, memberinya julukan Dzun Nurain, yang berarti “pemegang dua pelita.”

Pada era pemerintahannya, pemerintah Muslim mengembangkan wilayahnya dengan menaklukkan Fars (saat ini Iran) pada tahun 650 dan sebagian wilayah Khorāsān (saat ini Afghanistan) pada tahun 651. Penaklukan Armenia juga dimulai pada dekade 640-an. Utsman bin Affan adalah keturunan dari Abi Al-Ash bin Umayyah bin Abdu Syams bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab.

Utsman dilahirkan dari ayah yang bernama Affan bin Abi al-‘As, berasal dari suku Umayyah, dan ibu yang bernama Arwa bint Kurayz, dari keturunan Abd Shams, suku Quraisy yang terhormat dan berpengaruh di Makkah. Utsman memiliki seorang adik perempuan bernama Aminah. Kelahirannya terjadi di kota Ta’if.

Ia tercatat sebagai salah satu dari 22 individu di Mekkah yang memiliki kemampuan menulis. Sang ayah, Affan, meninggalkan warisan berharga ketika ia meninggal dunia pada usia muda saat bepergian ke luar negeri. Warisan ini menjadi modal penting dalam kehidupan Utsman. Utsman mengikuti jejak ayahnya menjadi seorang pedagang, dan usahanya berkembang dengan cepat, menjadikannya salah satu dari orang-orang terkaya di kalangan suku Quraisy.

Ia terkenal sebagai seorang pengusaha yang sukses dalam bidang ekonomi, tetapi juga sangat dermawan. Utsman sangat berperan dalam membantu perekonomian umat Islam pada awal perkembangan dakwah Islam. Dia dijuluki Dzun Nurain, yang artinya pemilik dua cahaya, karena Utsman menikahi dua putri Rasulullah SAW, yaitu Ruqayyah dan Ummu Kulthum.

Utsman bin Affan dilahirkan pada tahun 574 M dari suku Bani Umayyah. Ibunya bernama Arwa binti Kuriz bin Rabiah. Ia memeluk Islam setelah diundang oleh Abu Bakar dan termasuk dalam golongan As-Sabiqun al-Awwalun, yaitu golongan pertama yang memeluk Islam. Rasulullah SAW sendiri menggambarkan Utsman bin Affan sebagai seorang muslim yang sangat jujur dan rendah hati.

Pada masa Perang Dzaturriqa dan Perang Ghatfahan, ketika Rasulullah SAW memimpin pasukan dalam pertempuran, Utsman diangkat sebagai wali kota Madinah. Selama Perang Tabuk, Utsman memberikan sumbangan besar berupa 950 unta, 70 kuda, dan sumbangan pribadi sebesar 1.000 dirham untuk mendukung biaya perang, yang merupakan sepertiga dari total biaya perang. Selain itu, Utsman bin Affan juga menunjukkan kedermawanannya dengan membeli mata air bernama Rumah dari seorang anggota suku Ghifar dengan harga 35.000 dirham.

Beliau mengalokasikan sumber daya air untuk kepentingan masyarakat. Selama pemerintahan Abu Bakar, Utsman juga menyumbangkan 1000 ekor unta yang diangkut gandum untuk membantu orang-orang yang membutuhkan selama musim kemarau.

Beliau juga pelopor yang memperluas Masjid al-Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah karena meningkatnya jumlah umat Islam yang menjalankan rukun Islam kelima, yaitu haji. Selain itu, dia juga merumuskan kebijakan keamanan yang inovatif bagi rakyatnya, membangun bangunan khusus untuk pengadilan dan penyelesaian perkara yang sebelumnya dilakukan di dalam masjid. Selain itu, dia juga mengembangkan sektor pertanian, berhasil menaklukkan beberapa wilayah kecil di sekitar perbatasan seperti Suriah, Afrika Utara, Persia, Khurasan, Palestina, Siprus, dan Rhodes, serta membentuk angkatan laut yang kuat.

Karya utamanya adalah ketika ia menerapkan kebijakan pengumpulan Alquran dalam mushaf tunggal. Selama masa kepemimpinannya, Utsman seringkali mengganti gubernur di daerah-daerah yang kurang layak atau tidak kompeten, menggantikannya dengan individu yang lebih dapat dipercayai.

Baca juga : Fenomena Jabal Magnet Di Arab Saudi

Awal Mula Memeluk Islam

Kisah Utsman Bin Affan Singkat-Saat Rasulullah SAW menerima wahyu dan memperkenalkan Islam, Abu Bakar adalah yang pertama yang memeluk agama ini. Pada tahun 611 M, setelah melakukan perjalanan bisnis ke Syiria, Abu Bakar mendatangi Utsman bin Affan dan mengajaknya untuk memeluk Islam. Utsman kemudian menerima ajakan ini dan bersama-sama dengan Abu Bakar, mereka mendatangi Nabi Muhammad untuk menyatakan keislamannya.

Dengan metode ini, Utsman menjadi salah satu dari awalnya yang memeluk Islam, setelah Ali, Umar, Abu Bakar, dan beberapa lainnya. Sejak saat itu, dia tetap setia kepada Nabi Muhammad SAW dan menjadi salah satu sahabat utama Nabi. Setelah menerima undangan untuk hijrah ke Madinah, Utsman menjadi salah satu dari mereka yang pergi dan mendampingi Nabi Muhammad SAW dalam penyebaran agama Islam hingga akhir hayat Nabi.

Utsman mendengarkan kisah pengalaman Nabi Muhammad SAW dan situasi di mana kenabiannya diwahyukan. Ia segera menerima Islam dan dengan lancar bergabung dalam lingkaran sahabat Nabi Muhammad SAW.

Saat pesan Nabi Muhammad SAW disampaikan kepada masyarakat, Makkah menjadi riuh rendah. Banyak pemimpin merasa khawatir akan kehilangan pendapatan mereka. Pesan yang mengikuti hanya kepada Allah berarti bahwa aliran peziarah yang datang untuk menyembah berhala di Ka’bah sekarang akan mereda atau bahkan berhenti sama sekali.

Tantangan Setelah Memeluk Islam

Saat barisan pengikut Nabi Muhammad mulai berkembang, kaum Quraisy memulai kampanye penganiayaan dan pelecehan terhadap para Muslim baru. Mereka bersedia bertarung demi melindungi berhala mereka serta menjaga cara hidup ekonomi dan sosial mereka. Kampanye ini segera bermetamorfosis menjadi tindakan kekerasan dan pelecehan, bahkan anggota keluarga mereka tidak terhindar dari ancaman.

Penerimaan Utsman terhadap Islam memicu reaksi negatif dari anggota keluarganya sendiri. Meskipun ayah Utsman telah meninggal, pamannya berusaha untuk menghentikannya. Ia membatasi gerak Utsman dengan mengikat tangan dan kakinya, lalu mengunci Utsman di dalam lemari.

Ibu dan pamannya berharap agar dia menghentikan peluk Islam, tetapi dia menolak. Utsman juga menghadapi dilema dalam pernikahannya. Para istri tidak mau menerima Islam meskipun dia berusaha meyakinkan mereka tentang keindahannya, akhirnya dia harus bercerai.

Menjadi Khalifah

Kisah Utsman Bin Affan Singkat-Pada tahun 632, setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar menjadi khalifah yang berkuasa dalam umat Islam. Selama masa pemerintahannya, Utsman bin Affan dan rekan-rekannya memainkan peran penting sebagai penasehat utama. Kemudian, setelah Abu Bakar meninggal pada tahun 634, Umar bin Khattab menggantikannya sebagai khalifah dan memimpin hingga wafatnya pada tahun 644.

Sesudah Umar memegang sebagai Khulafaur Rasyidin ke-2, Utsman tetap tinggal di Madinah untuk mengelola bisnisnya dan berpartisipasi dalam urusan pemerintahan. Selama masa itu, dia mengalami berbagai peristiwa, termasuk kematian Umar bin Khattab akibat pembunuhan oleh Abu Lu’luah.

Kemudian, ada diskusi untuk memilih khalifah berikutnya. Enam calon diajukan, yaitu Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqas, Zubair bin Awwam, dan Thalhah bin Ubaidillah. Tetapi, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqas, Zubair bin Awwam, dan Thalhah bin Ubaidillah kemudian mengundurkan diri, meninggalkan Utsman dan Ali sendirian.

Setelah melakukan pemungutan suara, sebagian besar orang menginginkan agar Usman mengambil alih posisi Umar sebagai raja ketiga. Maka, pada bulan Muharram 23 H atau 644 Masehi, Utsman bin Affan resmi menjadi khalifah pada usia 70 tahun.

Masa Pemerintahan Utsman bin Affan

Selama masa pemerintahannya sebagai khalifah, Utsman bin Affan aktif dalam perluasan wilayah dan pendirian armada angkatan laut. Di bawah kepemimpinannya, wilayah kekuasaan yang diperluas mencakup Barqah, Tripoli Barat, bagian selatan negeri Nubah di Afrika, Armenia, Tabaristan, Amu Darya, Balkha, Harah, Kabul, Haznah di Turkistan di Asia, dan Siprus di Eropa. Utsman juga mengorganisir kerajaan Muslim menjadi sepuluh provinsi dengan masing-masing dipimpin oleh seorang emir atau gubernur.

Di bawah kepemimpinan Utsman, umat Islam menikmati era kejayaan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kabarnya, seseorang dapat melaksanakan haji lebih dari sekali. Utsman juga mendirikan sistem kepolisian dan pengadilan yang selalu beroperasi di dekat bekas masjid. Salah satu prestasi paling mengesankan dari Utsman adalah pengkompilasian Alquran, yang kemudian disebarkan ke Mekkah, Suriah, Basrah, Kufah, dan Madinah.

Akhir Masa Pemerintahan

Utsman bin Affan memimpin selama dua periode, dengan masing-masing berlangsung selama enam tahun. Akan tetapi, selama pemerintahannya yang kedua, konflik dan pemberontakan meletus karena ia memberikan posisi strategis dalam pemerintahan kepada anggota keluarganya dari Bani Umayyah. Pada tahun 35 H atau 655 M, sekitar 1.500 orang berkumpul di Madinah untuk mengecam kebijakan Utsman.

Namun, karena tidak ada respons yang diterima, protes tersebut bermetamorfosis menjadi sebuah pemberontakan yang menggulingkan pemerintahannya. Utsman dikepung oleh pasukan tersebut, namun ia menolak untuk terlibat dalam pertempuran karena ia tidak ingin melihat darah saudara-saudara Muslimnya tumpah. Khalifah Utsman bin Affan meninggal pada tahun 656 setelah seorang pemberontak bernama Al-Gafiqi berhasil menyusup melalui atap dan menemukan kamarnya. Penyebab kematian Utsman bin Affan adalah pukulan pada kepalanya.

Keteladanan Utsman Bin Affan

  1. Peduli Kepada Umat dan Agama

Utsman bin Affan dianggap sebagai khalifah ketiga setelah kematian ‘Umar bin Khattab. Utsman bin Affan terpilih karena sikap dan perilaku yang luhur serta ketulusannya dalam upayanya untuk memajukan Islam.

Setelah menjadi Khalifah, banyak tindakan dilakukan untuk mengembangkan Islam. Salah satu sumbangannya adalah pembentukan kelompok penerbit Al-Quran yang dipimpin oleh Zaid bin Tsabit. Ini disebabkan oleh minatnya terhadap bagaimana umat Islam harus membaca Al-Quran karena ketidakberaturan teks-teks yang ada dan perbedaan pendapat mengenai cara membacanya.

Langkah awal melibatkan pengumpulan mushaf Al-Quran yang ditemukan dalam masyarakat. Hal ini dilakukan karena ada kemungkinan bahwa mushaf Al-Quran yang beredar di kalangan masyarakat tidak sesuai dengan versi yang benar. Tindakan selanjutnya adalah menyalin dan menyusun ulang mushaf Al-Qur’an dengan merujuk pada mushaf-mushaf yang disimpan oleh Hafsah binti Umar yang masih terjaga dengan baik dan akurat. Mushaf Al-Qur’an yang telah direkam atau diterbitkan ini kemudian dikenal sebagai “Mushaf Al-Imam” atau Mushaf Utsmaniyah, yang akan digunakan sebagai pedoman untuk membaca Al-Qur’an dengan benar.

  1. Memiliki Sifat Dermawan

Utsman bin Affan terkenal sebagai seorang yang sangat dermawan. Pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar, kota Makkah mengalami kelaparan yang parah akibat musim kemarau yang berkepanjangan. Ketika Utsman datang dari Syam, ia membawa kafilah dagang yang terdiri dari 1000 unta yang penuh dengan makanan. Saat akan memasuki kota, rombongan Utsman dihentikan oleh para pedagang Mekkah yang ingin membeli semua barang bawaannya dengan tawaran keuntungan yang besar. Namun, Utsman tidak tergoda sedikit pun, karena niatnya adalah memberikan semua barang yang dibawanya kepada fakir miskin.

  1. Gagah Berani

Khalifah Utsman bin Affan tidak pernah merasa takut, bahkan dihadapan 120.000 tentara Romawi yang siap berperang di Afrika Utara. Saat wilayah Islam terus berkembang dan banyak daerah dikelilingi oleh lautan, Khalifah Utsman mengambil langkah berani dengan mendirikan armada dan pasukan angkatan laut untuk melindungi wilayah Muslim dari serangan musuh. Hasilnya, Islam selalu meraih kemenangan dalam pertempuran laut.

  1. Rendah Hati dan Sederhana

Utsman bin Affan memiliki kekayaan, tetapi ia tidak hidup mewah. Dia menjalani hidup dengan sederhana dalam segala hal, termasuk dalam berpakaian, makanan, dan gaya hidupnya.

Syurahbil bin Muslimin melaporkan bahwa meskipun Utsman sering menikmati hidangan istimewa yang disajikan oleh para penguasa, di rumahnya ia hanya biasa makan roti dengan cuka atau minyak.

  1. Teguh Dalam Iman

Setelah mengetahui bahwa Utsman bin Affan telah memeluk Islam, pamannya Al Hakam bin Abil Ash menjadi sangat marah. Utsman kemudian diikat dan disiksa berulang kali agar mau kembali kepada agama nenek moyangnya. Namun, Utsman tetap teguh pada keyakinannya dan tidak akan meninggalkan agama yang diajarkan oleh Nabi, tidak peduli apa pun yang terjadi.

Saat pamannya menyadari bahwa keyakinan Utsman yang teguh dan tidak tergoyahkan, tidak mungkin dipengaruhi untuk kembali kepada keyakinan nenek moyangnya, Al Hakam akhirnya memutuskan untuk melepaskan Utsman bin Affan.

Itulah kisah Utsman Bin Affan singkat, semoga bisa memetik keteladanan beliau sebagai Khulafaur Rasyidin.

Baca juga : Kisah Nabi Harun AS Dan Mukjizatnya

Kisah Abu Bakar As Shiddiq Sang Khalifah Pertama

Kisah Abu Bakar As Shiddiq Sang Khalifah PertamaAbu Bakar Ash-Shiddiq merupakan seorang sahabat Nabi yang terkenal dengan kepribadiannya yang senantiasa menunjukkan kedisiplinan, ketaatan, dan kejujuran luar biasa dalam segala hal. Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, umat Islam mempercayakan Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk menjadi pengganti Beliau dalam memimpin agama Islam. Berikut ini kisah Abu Bakar As Shiddiq sang khalifah pertama selengkapnya.

Abu Bakar Ash-Shiddiq dilahirkan pada tahun 573 Masehi yang diberi nama Abdullah bin Abi Quhafa, dan meninggal dunia pada tanggal 23 Jumadil Akhir tahun 13 Hijriah setelah Tahun Gajah, bersamaan dengan usianya yang ke-63 tahun. Beliau adalah keturunan dari keluarga bangsawan terhormat di Makkah. Sebelum memeluk Islam, ia dikenal dengan nama Abdul Ka’bah. Ayahnya, yang bernama Utsman bin Amir, memeluk Islam saat peristiwa Penaklukan Kota Mekah (Fathu Makkah) berlangsung.

Berdasarkan sumber dari kitab Hayatus Sahabah, tercatat bahwa Abu Bakar memeluk agama Islam setelah diundang secara langsung oleh Nabi Muhammad SAW. Pasca peristiwa tersebut, Abu Bakar aktif sebagai seorang pendakwah ajaran Islam kepada beberapa individu berpengaruh, di antaranya Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan banyak lagi lainnya. Namun sayangnya, istri Abu Bakar yang bernama Qutailah binti Abdul Uzza menolak untuk memeluk Islam, sehingga Abu Bakar akhirnya harus menceraikannya. Sementara istri lainnya, yaitu Ummu Ruman, dengan tulus menerima kepercayaan Islam.

Mengenai pernikahan, Abu Bakar telah menikahi dua orang istri di Makkah. Mereka adalah Qatilah binti al-’Azy dan Ummu Ruman binti Amir bin Uwaimar. Dari istri pertamanya, beliau dikaruniai dua anak yang diberi nama Abdullah dan Asma. Dari istri keduanya, beliau juga diberkahi dua anak, yaitu Abdurrahman dan Aisyah.

Setelah memeluk agama Islam dan pindah ke Madinah, Abu Bakar melangsungkan pernikahan lagi dengan dua wanita, yaitu Habibah binti Kharijah dan Asma’ binti Umais. Dari istri ketiganya, Abu Bakar diberkahi dengan seorang anak perempuan bernama Ummu Kultsum yang lahir setelah beliau meninggal dunia. Ketika Ummu Kultsum mencapai usia dewasa, ia menikah dengan salah satu sahabat Rasulullah SAW, yakni Thalhah bin Ubaidillah. Sementara itu, dari istri keempatnya, Abu Bakar dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Muhammad.

Baca juga : Kisah Nabi Musa AS Dan Mukjizatnya

Mendapat Julukan As Shiddiq Dan Al ‘Atiq

Kisah Abu Bakar As Shiddiq Sang Khalifah Pertama-Terdapat sebuah cerita yang mengisahkan bagaimana Abu Bakar memperoleh gelar “Ash Shiddiq” dan “Al-’Atiq”. Di dalam budaya Arab, sudah menjadi lazim bahwa nama seseorang akan diikuti dengan laqab, yakni julukan. Fungsi dari julukan ini adalah sebagai wujud penghargaan terhadap keutamaan budi pekertinya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga kerap memberikan julukan kepada para sahabatnya sebagai wujud penghormatan. Seperti halnya julukan “al-Faruq” yang diberikan kepada Umar bin Khattab, yang mengandung makna pembeda antara kebenaran dan kebatilan. Selanjutnya, terdapat pula julukan “Saifullah” yang disematkan pada Khalid bin Walid, merujuk pada perannya sebagai pedang Allah. Tidak ketinggalan, Hamzah bin Abdul Muthalib juga diberi gelar “Asadullah”, menggambarkan keberaniannya seperti seekor macan dalam jalan Allah.

Bisa dikatakan bahwa semua sahabat Rasulullah SAW diberi julukan individu, termasuk Abu Bakar yang dikenal dengan gelar “ash-Shiddiq” dan “al-‘Atiq”. Makna dari “As Shiddiq” adalah seseorang yang sangat jujur dan cenderung untuk selalu mengakui kebenaran. Inilah yang membuat Abu Bakar dipilih sebagai sahabat Nabi Muhammad SAW yang paling dipercayai, bahkan dalam situasi-situasi yang tidak masuk akal sekalipun.

Terjadi suatu kisah, tepatnya setelah Peristiwa Isra Mi’raj. Pada saat itu, Rasulullah SAW menjalani sebuah perjalanan yang sangat cepat dari Makkah ke Baitul Maqdis. Setelah itu, beliau melanjutkan perjalanan ke langit yang penuh dengan keajaiban. Pada hari berikutnya, Rasulullah SAW menceritakan pengalaman ini kepada penduduk Makkah.

Namun, tidak seperti yang diharapkan di mana kehadiran-Nya seharusnya memperkuat iman dan mendapatkan pendengaran yang penuh perhatian, penduduk Makkah justru menunjukkan sikap ketidakpercayaan. Ironisnya, beberapa di antara mereka yang memiliki iman yang rapuh bahkan sampai pada titik murtad, serta mencemooh Nabi Muhammad SAW. Bahkan dalam keadaan yang semakin pelik ini, muncul lah Abu Bakar dengan penuh keyakinan, menganggap benar semua kabar yang telah disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW. Maka, sejak saat itulah, ia dijuluki dengan sebutan “Ash-Shiddiq”, yang berarti “yang sangat membenarkan”.

Tidak hanya dikenal dengan sebutan Ash-Shiddiq, Abu Bakar juga dijuluki Al-’Atiq. Beberapa ulama berpendapat bahwa ini disebabkan oleh paras tampan Abu Bakar. Namun, ada juga yang mengklaim bahwa julukan ini diberikan karena Abu Bakar selalu berada di garis depan dalam melakukan kebaikan. Versi lain berpendapat bahwa julukan tersebut berasal dari nasab suci Abu Bakar, di mana nenek moyangnya terhindar dari perbuatan zina. Pendapat lain menyatakan bahwa Abu Bakar diberi julukan ini karena diyakini telah dijamin terhindar dari siksa api neraka.

Walaupun Abu Bakar menjadi mertua Nabi Muhammad SAW, namun ia juga dipilih sebagai salah satu sahabat Nabi yang senantiasa menemani dalam perjuangan dakwah Rasulullah SAW di berbagai tempat. Ia dengan tulus bersedia mengorbankan harta maupun nyawanya guna menyebarkan risalah dakwah. Karena itu, nama Abu Bakar Ash Shiddiq menduduki posisi istimewa dalam hati Rasulullah SAW dan dalam lembaran sejarah Islam.

Sebelum masuk Islam, Abu Bakar mengalami masa pertumbuhan di lingkungan suku Quraisy di kota Makkah. Ia berasal dari keturunan terhormat dalam kabilah Tayim. Sebelum memeluk agama Islam, ia telah dikenal sebagai individu yang jujur dan memiliki akhlak baik. Ia menjauhkan diri dari kebiasaan negatif yang umum di kalangan kaum jahiliyah, seperti bermain-main dengan wanita dan mabuk-mabukan.

Bukan hanya itu saja, Abu Bakar juga berasal dari keluarga yang berkecukupan karena ia menjalani profesi sebagai seorang pedagang. Telah banyak rute dagang yang telah ia lalui. Dalam berbisnis, Abu Bakar senantiasa mengamalkan prinsip jujur dan keramahannya, sehingga dihormati sebagai seorang pedagang terhormat di kalangan bangsa Quraisy.

Dalam catatan Sirah Nabawiyah, Ibnu Hisyam juga mengungkapkan bahwa Abu Bakar diakui sebagai sosok yang lemah lembut dan sopan santun dalam pergaulannya dengan kaumnya. Sebagai seorang pedagang dengan etika yang luhur, ia seringkali menjadi tempat para pemimpin kelompok mencari pandangan. Abu Bakar dikenal karena keilmuannya yang luas dan keahlian berdagang yang kokoh, yang membuat kedudukannya semakin tinggi di tengah-tengah bangsa Quraisy.

Setelah masuk Islam, Abu Bakar adalah pribadi yang tetap menjaga akhlaknya dari kelakuan buruk yang umum terjadi pada zaman jahiliyah, walaupun pada saat itu agama Islam belum ditegakkan. Meskipun memiliki posisi terhormat di tengah masyarakat Quraisy, ia enggan terjerumus dalam kelemahan moral yang melanda mereka. Setelah memeluk Islam, Abu Bakar menjadi pendamping setia Rasulullah SAW dalam setiap tahapan dakwahnya. Ia bahkan dengan tulus menggunakan sebagian dari kekayaannya untuk menyebarkan agama Allah. Kedekatan luar biasa antara Abu Bakar dan Rasulullah SAW juga tertuang dalam hadis-hadis dalam kitab Bukhari.

Sebagai figur yang berperan sebagai “penopang” dalam dakwah Rasulullah SAW, Abu Bakar mengelompokkan dakwah menjadi dua bagian. Pertama, ia mengarahkan dakwah kepada kelompok Quraisy yang memiliki fitrah yang bersih, pemikiran yang jernih, dan tidak terpengaruh oleh perilaku buruk dari zaman jahiliyah. Kedua, ia juga mengarahkan dakwah kepada kelompok fakir miskin di antara hamba sahaya, serta individu-individu yang telah mengalami penindasan dari kalangan non Quraisy.

Wafatnya Abu Bakar As Shiddiq

Saat berusia 63 tahun, Abu Bakar Ash Shiddiq meninggal dunia akibat penyakit yang sedang dihadapinya. Ia dikebumikan di lokasi dekat Masjid Nabawi, tepatnya di kompleks pemakaman rumah putrinya, Aisyah. Abu Bakar dikenal sebagai individu yang senantiasa menemani Nabi Muhammad SAW sejak awal pengislaman hingga beliau wafat. Abu Bakar Ash Shiddiq merupakan ayah dari Aisyah, yang juga merupakan istri dari Nabi Muhammad SAW. Sebelum memeluk agama Islam, namanya adalah Abdul Ka’ab, namun belakangan berganti menjadi Abdullah.

Sebelum wafat, Abu Bakar Ash Shiddiq telah mengalami penyakit selama kurang lebih 15 hari. Saat itu, ia hanya bisa berbaring lemah di tempat tidur dan tidak mampu melaksanakan shalat berjamaah bersama sahabat-sahabat lainnya. Karena Abu Bakar selalu menjadi imam masjid, namun pada saat itu sedang sakit, peran tersebut digantikan oleh Umar bin Khattab agar pelaksanaan shalat berjamaah tetap berjalan lancar.

Abu Bakar wafat pada usia 63 tahun. Jenazahnya disucikan oleh istrinya, yang bernama Asma’ binti Amisy, sesuai wasiatnya. Terkait asal-usul penyakitnya, beberapa sumber menyatakan bahwa Abu Bakar mungkin telah mengonsumsi makanan beracun yang disajikan oleh seorang Yahudi. Pada saat itu, Abu Bakar sedang bersantap dengan al-Harist bin Kaladah dan al-Atab bin Usaid. Keduanya juga jatuh sakit dan meninggal pada hari yang sama.

Demikianlah kisah Abu Bakar As Shiddiq sang khalifah pertama, semoga menambah wawasan dan ilmu pengetahuan dalam ajaran Islam.

Baca juga : Kisah Umar Bin Khattab Dan Kepemimpinannya 

Kisah Umar Bin Khattab Dan Kepemimpinannya

Kisah Umar Bin Khattab Dan KepemimpinannyaUmar bin Khattab, merupakan seorang sahabat setia Nabi Muhammad SAW yang memegang jabatan sebagai Khulafaur Rasyidin Kedua, menggantikan posisi Abu Bakar. Sebelum memeluk agama Islam, Umar bin Khattab dikenal sebagai individu yang dihormati sekaligus ditakuti oleh masyarakat Quraisy. Berikut ini kisah Umar bin Khattab dan kepemimpinannya yang bijaksana kepada rakyatnya.

Dia juga terkenal sebagai pemuda yang berperilaku kejam, ganas, dan pemberani. Bersama dengan Umar bin Hisyam (Abu Jahal), kedua individu ini kerap menghalangi masyarakat untuk memeluk Islam karena adanya rasa benci mereka terhadap agama tersebut.

Ketika menginjak usia 27 tahun, Umar bin Khattab pernah memiliki niat untuk melakukan tindakan terhadap Rasulullah SAW karena menganggap bahwa dakwah beliau telah menyebabkan perpecahan di antara bangsa Arab dan memicu konflik-konflik bersenjata. Namun akhirnya niatan tersebut batal setelah dia mendapat petunjuk dari Allah SWT untuk memeluk Islam.

Kisah Umar bin Khattan Masuk Islam

Kehadiran Umar Bin Khattab sebagai seorang Muslim adalah hasil dari doa yang diterima oleh Allah SWT dari Nabi Muhammad SAW. Doa ini diperkenankan sebagai bentuk penghargaan atas ketabahan Umar dalam menghadapi berbagai ujian selama periode dakwah.

Hidayah diberikan ketika Umar Bin Khattab hampir melakukan pembunuhan terhadap Rasulullah SAW. Ketika itu, seorang teman dekat Rasulullah, Nu’aim bin Abdillah, menginformasikan kepadanya bahwa adiknya, yaitu Fatimah, telah masuk agama Islam.

Baca juga : Kisah Khadijah Istri Dari Rasulullah SAW

Mendengar berita tersebut, Umar Bin Khattab segera berbalik dan dengan emosi yang memuncak, ia bergegas menuju ke rumah Fatimah untuk meminta penjelasan. Namun, begitu ia tiba di sana, Umar Bin Khattab justru mendapati Fatimah dan suaminya sedang dalam keadaan membaca Al-Quran.

Kemudian, Umar menampar adiknya dengan cukup keras, membuat Fatimah tersungkur dan berlinang air mata. Saat itulah, Umar melihat gambaran yang sangat mirip dengan dirinya sedang membaca ayat Al-Quran di tangan adiknya. Perasaan yang mendalam menyelinap dalam diri Umar ketika menyaksikan ayat Al-Quran tersebut, bahkan tubuhnya ikut gemetar merasakan getaran makna ayat tersebut.

Kali ini, Umar berkeinginan untuk segera bertemu dengan Rasulullah SAW. Niatnya tidak lagi untuk mengancam nyawa Rasulullah SAW, melainkan ia ingin memeluk agama Islam. Dengan langkah mantap, Umar menuju ke Darul Arqam, lokasi di mana Rasulullah SAW dan para sahabatnya berkumpul.

Saat Umar tiba, kegelisahan melanda para sahabat yang khawatir Umar akan melancarkan serangan. Namun, Rasulullah justru membuka pintu untuk Umar.

Kemudian, Umar menyatakan keinginannya untuk memeluk iman kepada Allah SWT. Ia mengucapkan kalimat syahadat sebagai tanda komitmennya. Rasulullah dan para sahabat merasa sangat gembira dengan pilihan keislaman Umar, yang mereka sambut dengan takbir riang.

Setelah masuk agama Islam, Umar menyarankan kepada Rasulullah untuk tidak melanjutkan penyebaran Islam secara diam-diam. Sejak saat itu, Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya mulai menyampaikan dakwah secara terbuka. Jumlah pengikut Rasulullah SAW juga semakin bertambah pesat.

Kisah Umar dan Seorang Ibu Yang Memasak Batu

Kisah Umar Bin Khattab Dan Kepemimpinannya-Terdapat banyak cerita yang mengisahkan kisah Umar bin Khattab selama masa hidupnya. Salah satunya adalah kisah yang terkenal saat Umar berjumpa dengan seorang ibu yang sedang memasak batu untuk anak-anaknya karena tidak memiliki makanan sama sekali.

Pada suatu malam, tepat menjelang dini hari, Khalifah Umar melaksanakan kebiasaan rutinnya dengan berjalan bersama pengawalnya, guna memeriksa situasi rakyatnya. Umar akhirnya tiba di suatu dusun kecil yang terpencil, dan dengan lembut telinganya mengenali raungan sedih seorang balita. Tak lama berselang, tangisan itu mereda, hanya untuk kembali beberapa saat kemudian. Tangisan si kecil itu begitu mengiris hati.

Kemudian, Umar mencari asal suara tangisan itu. Langkahnya mengarah ke sebuah rumah gubuk sederhana yang dibuat dari kulit kayu. Di dalam gubuk tersebut, terlihat seorang ibu tengah duduk di depan tungku, seolah-olah sedang memasak.

Terlihat sang ibu sibuk mengaduk adonan di dalam panci, kadang-kadang juga ia lembut membujuk anaknya agar tertidur. Sang anak dapat seketika terlelap begitu mendengar suara lembut sang ibu, tetapi tidak berapa lama kemudian ia terbangun dan kembali menangis. Pola ini berulang berkali-kali, hingga akhirnya membuat rasa penasaran tumbuh dalam diri Umar tentang aktivitas apa yang sedang dilakukan oleh ibunya.

Dengan perlahan, Umar mendekat. Tangannya lantas mengetuk lembut pada daun pintu sembari mengucapkan salam. Umar tidak ingin orang mengenali dirinya, sehingga ia datang sebagai tamu dengan menyamar. Dengan sigap, Umar segera mengajukan pertanyaan mengenai masakan yang sedang disiapkan oleh ibu rumah, serta alasan di balik tangisan tak henti-hentinya dari sang putra.

Dengan perasaan sedih, ibu tersebut membagikan situasinya. Ia menjelaskan bahwa anaknya menangis karena lapar, namun ia tidak memiliki makanan di rumah. Ibu ini juga menyampaikan bahwa ia berpura-pura memasak sebuah batu untuk menghibur sang anak, seolah-olah sedang mempersiapkan makanan.

Ibu tersebut juga mengeluarkan keluhan dengan keras terhadap pemimpin pada masa itu. Setelah mendengar unek-unek ibu tersebut, Umar pergi dengan hati yang hancur dan menangis sambil memohon ampun kepada Allah SWT. Ia merasa telah menjadi pemimpin yang ceroboh sehingga tidak menyadari bahwa ada rakyatnya yang menderita.

Tanpa banyak berpikir, Umar segera pulang untuk mengambil sebuah karung gandum. Dengan karung gandum diangkat sendiri di punggungnya, ia menuju ke rumah ibu yang sedang memasak batu. Seseorang dari pengawal Umar yang menyaksikan pemimpinnya bergerak dengan cepat membawa karung gandum menawarkan pertolongan, tetapi tawaran itu ditolak oleh Umar.

Setiba di kediaman ibu itu, Umar segera mengolah sebagian gandum tersebut menjadi hidangan. Setelah matang, ibu dan anak tersebut diajak untuk menikmati makanan tersebut hingga kenyang.

Setelah ibu dan anak ini selesai makan dengan cukup, maka Umar pun berpamitan. Sesudah itu, ia memberikan pesan agar besoknya ibu dan anak tersebut mengunjungi Baitul Mal untuk bertemu dengannya dan menerima jatah makanan dari negara.

Esok harinya, ibu tersebut mengunjungi Baitul Mal untuk memohon jatah tunjangan pangan untuk dirinya dan anaknya. Umar menyambutnya dengan senyuman ceriaKetika sang ibu menyadari bahwa orang yang membantunya di malam gelap ialah Umar sang Amirul Mu’minin, kejutannya begitu segera terasa.

Umar malah dengan ramah menghampiri ibu ini sambil mendekat dan mengungkapkan permintaan maafnya. Selaku pemimpin, Umar tidak ragu untuk memohon maaf kepada rakyatnya yang terlupa dalam perhatiannya.

Kisah Wafatnya Umar bin Khattab

Kisah Umar Bin Khattab Dan Kepemimpinannya-Mendekati saat menjelang kematiannya, Umar Bin Khattab menyadari bahwa keadaannya semakin rapuh dan usianya telah lanjut. Ia kemudian memohon kepada Allah SWT agar diberikan keberkahan syahid, dan permohonannya pun dikabulkan oleh Allah.

Diketahui bahwa Beliau wafat setelah dibunuh saat sedang menjalankan kewajiban menjadi imam sholat Subuh oleh Abu Lu’lu’ah Fairuz, seorang budak al-Mughirah yang berasal dari Persia. Dia menghabisinya karena rasa kecewa atas kekalahan Persia, yang pada saat itu merupakan kekuatan dominan, oleh pasukan Islam. Dia diserang dengan pisau sebanyak 6 kali yang mengakibatkan luka parah.

Peristiwa tersebut dimulai sebelum fajar menyingsing pada hari Rabu, tanggal empat Dzulhijjah tahun ke-23 Hijriyah. Umar keluar dari kediamannya dengan tujuan untuk memimpin shalat Subuh. Ia mengarahkan beberapa individu di Masjid untuk menyusun barisan shaf sebelum pelaksanaan shalat.

Sejenak sebelum hendak memulai niat sholat dan melantunkan takbir, tiba-tiba Abu Lu’lu’ah muncul di depan Umar. Dengan tiba-tiba, dia menusukkan senjatanya ke tubuh Umar sebanyak tiga hingga enam kali. Umar merasakan panasnya senjata itu meresap dalam dirinya, lalu dia menoleh kepada jamaah dan memberi perintah kepada mereka untuk mengejar Abu Lu’lu’ah.

Abu Lu’lu’ah menusuk jamaah yang berusaha menangkapnya, hasilnya enam orang tewas. Setelah peristiwa tersebut, dia mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Tusukan yang dilakukan oleh Abu Lu’lu’ah mengenai bagian bawah pusar Umar Bin Khattab dan menyebabkan lapisan kulit bagian dalam serta usus lambungnya terputus. Akibat dari luka ini, Umar Bin Khattab tidak mampu berdiri karena rasa sakit yang luar biasa, sehingga dia terhempas ke tanah.

Kemudian, Abdurrahman bin Auf segera mengambil alih tugas mengimami shalat. Setelah insiden tersebut, Umar Bin Khattab dibawa pulang ke rumahnya dalam keadaan tak sadarkan diri dan pendarahan terus mengalir dari tubuhnya. Para sahabat berupaya membangunkan beliau saat waktu shalat tiba.

Kemudian, ia akhirnya sadar dan segera melakukan sholat. Setelah menyelesaikan sholatnya, ia bertanya siapakah orang yang telah menusuknya. Kemudian, sahabat-sahabat tersebut memberikan tanggapannya.

Setelah momen itu, Umar Bin Khattab merasa penuh rasa syukur karena ajalnya terjadi oleh tangan seseorang yang tidak memiliki iman, melainkan oleh individu yang bahkan tidak pernah bersujud kepada Allah SWT. Tak berapa lama setelah insiden itu, beliau menghembuskan nafas terakhir. Setelah beliau meninggal dunia, jabatan kepemimpinan sebagai khalifah diambil alih oleh Utsman Bin Afan.

Demikianlah kisah Umar bin Khattab dan kepemimpinannya yang patut kita teladani, semoga bermanfaat.

Baca juga : Kisah Nabi Syu’aib Dan Mukjizatnya

Butuh Bantuan ?